Lahir dan dibesarkan dalam lingkungan pengajar, pengalaman tersebut tentu saja mempengaruhi prinsip hidup saya. Kedua orang tua saya adalah guru; ayah saya mengajar di sekolah dasar, sementara ibu saya di sekolah menengah pertama. Perkenalkan, nama saya Mujibul Rahman, biasa dipanggil Muji, dan dari sinilah minat saya untuk mengajar mulai tumbuh.
Sebagai lulusan Teknik Sipil, rutinitas saya cukup jauh dari kegiatan belajar mengajar. Meskipun selama kuliah saya masih bisa mengajar melalui kegiatan di himpunan mahasiswa jurusan, setelah lulus, saya merasa terputus dari aktivitas tersebut. Mulai saat itu, saya mencari komunitas mengajar. Banyak teman saya aktif di sebuah organisasi yang mengajar di panti asuhan, yang membuat saya tertarik untuk terlibat.
Saya mencari tahu tentang Yayasan Sipakatau Anak Harapan. Sejak 2023, saya sudah memiliki keinginan untuk mengajar, namun lokasi pekerjaan saya lebih banyak di luar Makassar, sehingga niat tersebut terhambat. Baru pada tahun 2024, saat Batch 2 Relawan Sobat Sipakatau Anak Harapan, saya bisa ikut berpartisipasi. Awalnya, saya berpikir mengajar di panti akan lebih mudah karena hanya perlu mengajar beberapa anak, berbeda dengan kelas yang harus menangani banyak siswa sekaligus.
Pengalaman mengajar saat kuliah sangat berbeda, karena ini adalah pertama kalinya saya mengajar anak-anak. Kita semua tahu bahwa anak-anak lebih suka bermain, sehingga pendekatan pengajaran yang dilakukan harus lebih persuasif dan fleksibel. Awalnya, saya mengajar di Panti Asuhan Nurul Ichsan, di mana saya mengajar dua anak SMA, Anjas dan Arfan, dengan materi matematika lanjutan, khususnya perkalian dan pembagian. Sayangnya, karena ketidakmerataan pendidikan, mereka masih belum fasih dalam operasi dasar tersebut.
Selanjutnya, kami pindah ke Panti Asuhan Setia Karya, dengan jumlah anak yang jauh lebih banyak, kebanyakan masih di bangku sekolah dasar. Banyaknya anak kadang membuat suasana belajar mengajar cukup chaos. Dalam situasi seperti ini, pendekatan konservatif sering kali diperlukan, termasuk penggunaan metode punishment dan reward untuk memotivasi mereka. Melihat perkembangan mereka setiap minggu memberikan kepuasan tersendiri bagi saya; rasa bangga dan senang menghapus lelah setelah mengajar.
Saya juga menyadari pentingnya kolaborasi antar semua elemen masyarakat agar pendidikan dapat merata bagi semua anak. Yayasan Sipakatau Anak Harapan mengambil langkah dengan memberikan bantuan untuk anak-anak di panti asuhan serta kepada para pengajar/relawan. Anak-anak mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik, sementara para pengajar dapat menumbuhkan kepekaan sosial dan berkontribusi pada kemajuan pendidikan di Indonesia. Semoga setiap kebaikan yang kita lakukan selalu mendapatkan sukses dan berkah.
Penulis: Mujibul Rahman
20-11-2024