Seperti hari-hari biasanya, saya melakukan kegiatan yang juga merupakan hobi sejak lama, apalagi kalau bukan memotret dan mengambil gambar. Namun, saat itu rasanya berbeda. Jika dulu hasil gambar yang saya ambil membawa perasaan puas dan senang, hari itu benar-benar berbeda. Melalui bidikan pertama dari lensa kamera ponsel saya, senyuman mereka bukan hanya sekadar gambar, melainkan harapan yang menunggu untuk didengar.
Setiap potret adalah suara mereka yang harus tersampaikan. Mungkin bagi orang-orang, senyuman mereka adalah kebahagiaan, tetapi dari sudut pandang lensa kamera, senyuman itu adalah cara mereka untuk menutupi kesedihan di hati mereka. Saya percaya bahwa di balik potret senyuman mereka terdapat harapan yang ingin dicapai dan harus tercapai.
Ada Alif dengan harapan kecilnya untuk memiliki tas sekolah yang baru, meski terhalang oleh kebutuhan mendesak dari anak-anak lainnya. Lalu ada Razya, yang dengan senyuman di setiap tatapannya hanya ingin pergi ke mall. Juga Nadia, dengan hobinya bermain, ingin menjadi penjual mainan. Dan adik kecil kita, Nafiza, yang ingin menjadi segalanya, dengan segala keterbatasannya untuk mengeksplor dunia. Mimpi dan harapan mereka mungkin kecil bagi kita, tetapi bagi mereka, itu adalah sesuatu yang besar.
Awalnya, saya hanya ingin berbagi waktu dan mencari kesibukan lain. Namun, perlahan saya sadar, merekalah yang memberi saya pelajaran tentang arti perjuangan. Mereka memberi saya dan teman-teman alasan untuk tidak pernah mengeluh dan senantiasa bersyukur. Sekarang, setelah melihat keadaan mereka, apa alasan saya untuk tidak bersyukur? Saya rasa tidak ada alasan lagi.
Sebuah potret sederhana dari lensa kamera yang saya ambil, kemudian diunggah dalam Instagram yayasan pada tanggal 13 Agustus 2023 dengan judul postingan “Apa Impian Mereka?” mendapat respons positif dari masyarakat. Dan itu telah berhasil membuka mata sebagian besar orang tentang apa harapan dan cita-cita mereka.
Di balik lensa kamera ponsel, saya belajar bahwa harapan bukan hanya untuk dimiliki, tetapi juga untuk diteruskan. Cita-cita bukan hanya untuk dimimpikan, tetapi juga untuk diperjuangkan. Mereka bukan ada untuk dikasihani, tetapi untuk dirangkul dan diberi kehidupan serta pendidikan yang layak.
Terima kasih dari saya, Rajul, Sipakatau, dan cita-cita mereka. 😀
Penulis: Rajul Waahid
05-01-2025